UN Jadi Pemetaan, Siswa Gembira & Orangtua Lega

UN Jadi Pemetaan, Siswa Gembira & Orangtua Lega

SOLO - Sejumlah pelajar mengaku sangat bersyukur dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan yang tak lagi menjadikan ujian nasional (UN) sebagai standar mutlak kelulusan para siswa.

Selama ini UN adalah suatu hal yang menakutkan bagi para siswa tingkat akhir, karena penentuan kelulusan siswa dinilai dari hasil UN yang diraih. Jika hasil UN tidak memenuhi standar kelulusan yang ditentukan, maka siswa dianggap gagal dan harus mengulang di tahun berikutnya.

Medi, siswa salah satu SMA negeri di Surakarta, merasa senang dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut. Sebab, sekolah bukan ditentukan dalam tiga hari tes saja. Sekolah melalui proses belajar secara bertahap, mulai kelas X, XI, hingga XII.

"Masak sekolah tiga tahun hanya ditentukan selama tiga hari dan enam mata pelajaran," tuturnya.

Medi mengatakan, meski setiap hari belajar, bayangan soal UN selalu di depan mata. Sering kali pula dia bertanya kepada kakak kelas yang sudah lulus. Jawabannya justru membuatnya semakin ketakutan.

Terpisah, Dian, salah satu orangtua siswa, merasa lega dengan kebijakan tersebut. Sebab, putrinya yang saat ini sedang duduk di bangku SMP kelas IX sudah sedikit tenang dan tidak begitu takut serta tegang dalam menghadapi ujian.

Sebelumnya semenjak menginjak semester II, Dira putrinya sudah terlihat bingung dan ketakutan akan menghadapi UN. Ia mengatakan, ada 20 paket soal dalam UN dan masing-masing siswa mendapat paket yang berbeda.

Namun, bukan masalah paket soal yang dijadikan alasan timbulnya rasa takut siswa. Standar nilai UN itulah yang ditakutkan hampir semua siswa.

"Adanya 20 paket soal UN sebelumnya membuat siswa ketakutan sendiri jika tidak lulus, namun yang jadi inti persoalannya adalah standar nilai yang diberlakukan untuk kelulusan," jelasnya.

Kondisi tersebut, ungkap Dian, justru menjatuhkan mental anak sebelum menjalani tes UN. Mereka sudah dihantui rasa takut yang berlebihan, sehingga sangat menganggu konsentrasi belajarnya.

"Bukan hanya anaknya yang stres, tapi orangtuanya juga ikutan stres," ungkapnya.

Harapannya dengan tidak memberlakukan UN sebagai standar kelulusan bukan berarti anak tidak belajar dengan giat lagi, setidaknya mereka tidak stres dulu jelang ujian hanya karena memikirkan nilai standar kelulusan